Selasa, 15 Januari 2013

resume/ pengantar filsafat pendidikan

                                               PENGANTAR FILSAFAT PENDIDIKAN
 

BAB I
PENGERTIAN FILSAFAT

A.    Definisi Filsafat
1.      Definisi Filsafat secara Etimologi
Istilah filsafat (Inggris: philosophy; Arab: Falsafah) berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani kuno, yaitu philein atau Philos yang berarti cinta atau sahabat, dan shopia  atau sophos yang berarti kebijaksanaan. Kedua kata tersebut membentuk istilah philosophia (filsafat) berarti cinta kepada kebijaksanaan atau sahabat kebijaksanaan. Karena istilah philosophia dalam bahasa Indonesia identik dengan istilah filsafat, maka orangnya, yaitu orang yang mencintai kebijaksanaan disebut filsuf.

2.      Definisi Filsafat Secara Operasional
Ditinjau dari segi proses berfikirnya, filasafat dapat didefinisikan sebagai suatu proses berpikir reflektif sistematis dan kritis kontemplatif untuk menghasilkan sistem pikiran atau sistem teori tentang hakikat segala sesuatu secara komprehensif.
Filsafat sebagai hasil berfikir dapat didefinisikan sebagai suatu system teori atau sistem pikiran tentang hakikat segala sesuatu yang bersifat komprehensif, yang diperoleh melalui berpikir reflektif sistematis dan kritis kontemplatif.

3.      Definisi Filsafat Secara Leksikal
Ditinjau secara leksikal, sebagaimana dijelaskan dalam Kamus Bahasa Indonesia, bahwa filsafat berarti sikap hidup atau pandangan hidup (Balai Pustaka, 1995)

B.     Karakteristik Filsafat
Adapun karakteristik umum berpikir filsafati atau sifat-sifat berfilsafat itu antara lain sebagai berikut:
1.      Karakteristik Objek Studi Filsafat
Tentang objek studi filsafat dibedakan ke dalam dua jenis, yaitu objek material dan objek formal. Objek material adalah apa yang dipikirkan filsuf dalam wujud materinya, sedangkan objek formal adalah apa yang secara khas dipermasalahkan atau dipertanyakan para filsuf berkenaan dengan objek material tadi.

a.       Objek Material Filsafat
Adalah segala sesuatu yang ada, yang meliputi:
1)      Segala sesuatu yang ada yang telah tergelar di dunia (atau yang telah diciptakan Tuhan) seperti alam, manusia, pengetahuan, dan nilai.
2)      Segala sesuatu yang ada sebagai hasil kreasi manusia, seperti: politik, ekonomi, hukum, ilmu, pendidikan, dsb.

b.      Objek formal
Adalah pertanyaan reflektif atau pertanyaan yang memerlukan jawaban, adapun pertanyaan tersebut berkenaan dengan segala sesuatu yang bersifat mendasar.

2.      Karakteristik Proses Berfikir Filsafati
Pertama, bahwa proses berfilsafat dimulai dengan ketakjuban atau ketidakpuasan atau keraguan, dan hasrat bertanya yang muncul pada diri seseorang filsuf terhadap sesuatu objek yang dialaminya (Jan Hendrik Rapar, 1996).
Kedua, permasalahan yang dihadapi seseorang filsuf selanjutnya dipikirkan oleh filsuf yang bersangkutan melalui prosedur berpikir tertentu dalam rangka mencari jawabannya. Berpikir demikian disebut berpikir reflektif sistematis, yaitu berpikir untuk memecahkan masalah yang dihadapi melalui prosedur berpikir tertentu.
Ketiga, bahwa berpikir filasafati bersifat kontemplatif, artinya berpikir untuk mengungkap hakikat dari segala sesuatu yang dipikirkan. Berpikir demikian sering disebut pula sebagai berpikir spekulatif atau berpikir radikal.
Keempat, bahwa dalam rangka mengungkap hakikat segala sesuatu yang dipertanyakannya itu para filsuf berpikir secara sinoptik, artinya berpikir dengan pola yang bersifat merangkum keseluruhan tentang apa yang sedang dipikirkan atau dipertanyakan, pola berpikir ini merupakan kebalikan dari pola berpikir analitik yang menjadi karakteristik berpikir ilmiah.
Kelima, bahwa dalam rangka berpkirnya itu para filsuf melibatkan seluruh pengalaman insaninya, sehingga pemikiran mereka itu bersifat subjektif.

3.      Karakteristik Hasil Berfilsafat
Adapun karakteristik atau sifat-sifat yang dimaksud adalah: Pertama, Filsafat sebagai suatu hasil berfikir bersifat normatif atau preskriptif. Kedua, filsafat sebagai hasil berpikir individualistik unik. Ketiga, sistem teori atau sistem pikiran sebagai hasil berfilsafat disajikan para filsuf secara tematik sistematis dalam bentuk naratif atau profetik.

4.      Karakteristik Kebenaran Filsafat
Implikasi dari cara-cara berpikirnya dan hasil pemikirannya yang bersifat subjektif maka kebenaran filsafat bersifat subjektif paralelistik. Dengan kata lain bahwa masing-masing aliran filsafat memiliki kebenaran yang berlaku dalam relnya masing-masing.

C.    Perbandingan Filsafat, Ilmu (Sains), Seni dan Agama
1.      Perbandingan Filsafat dengan Ilmu (Sains)
Dalam hal tertentu antara filsafat dengan ilmu (sains) memiliki persamaan. Persamaan yang dimiliki antara keduanya adalah dalam hal cara berpikirnya yang bersifat kritis.
Apabila kita mengkaji uraian Titus dkk, dalam bukunya living issue in philosophy (1979), maka dapat diidentifikasi adanya enam perbedaan yaitu:
1)      Filsafat berurusan dengan pengalaman yang bersifat menyeluruh atau komprehensif sebagai objek studinya. Sebaliknya ilmu (sains) berurusan dengan bidang pengalaman yang terbatas atau spesifik sebagai objek studinya.
2)      Pendekatan berpikir filsafat bersifat sintetik dan sinoptik, sedangkan pendekatan berpikir ilmu (sains) bersifat analitik.
3)      Filsafat mementingkan personalitas, nilai-nilai, dan seluruh bidang pengalaman. Sebaliknya ilmu (sains) cenderung mengeliminasi faktor-faktor personal, dan mengabaikan nilai-nilai demi menghasilkan objektivitas.
4)      Filsafat bertujuan untuk mengkritik, menilai dan menertibkan tujuan-tujuan akhair. Adapun ilmu (sains) mementingkan aspek riil dari alam (benda-benda), mengobservasinya, mengkonstruksi dan mengontrol proses-prosesnya merupakan tujuan ilmu (sains).
5)      Filsafat lebih tertarik untuk mementingkan hubungan antara fakta-fakta khusus dengan skema yang lebih besar. Adapun ilmu (sains) mementingkan deskripsi hukum-hukum fenomena dan hubungan sebab akibat.
6)      Hasil berfilsafat bersifat normatif, sedangkan ilmu bersifat deskriptif.

2.      Perbandingan Filsafat dengan Seni
Filsafat maupun seni kedua-duanya merupakan hasil kreasi insani, dan kedua-duanya asdalah hasil kreasi yang bersifast individualistik, subjektif dan unik. Adapun perbedaannya antara lain bahwa:
1)      Filsafat merupakan sistem pikiran, sedangkan seni merupakan sistem pengungkapan cita rasa.
2)      Sifat isi kreasi filasafat merupakan sistem pikiran yang komprehensif mendasar dan interpretatif normatif. Sedangkan sifat isi kreasi seni merupakan sistem pengungkapan cita rasa yang bersifat khusus, interpretatif estetis dan inspiratif spontan.
3)      Cara penyusunan kreasi filsafat adalah melalui berpikir reflektif sistematis dan kritis kontemplatif. Sedangkan cara penyusunan kreasi seni adalah melalui penghayatan estetis yang diungkapkan melalui bentuk tertentu.
4)      Penyajian: Filsafat disajikan dalam bentuk naratif atau profetik yang mungkin pula dalam bentuk seni tertentu semacam drama atau puisi. Sedangkan seni disajikan dalam bentuk sastera, drama, puisi, lukisan, bangunan, patung, musik, lagu dsb.

3.      Perbandingan Filsafat dengan Agama
Filsafat dan agama mempunyai persamaan tertentu, antara lain adalah sama-sama mengurusi maslah kebenaran, serta masalah nilai baik dan jahat, juga memiliki karakteristik normatif atau preskriptif. Adapun perbedaannya adalah:
1)      Filsafat dimulai dengan ketakjuban, keraguan, atau ketidakpuasan dan hasrat bertanya. Sedangkan agama dimulai dengan keimanan atau percaya.
2)      Filsafat merupakan hasil berpikir reflektif sistematis, dan kritis kontempltif. Sedangkan agama didapat melalui wahyu yang disampaikana Tuhan melalu RasulNya.
3)      Filsafat berisi tentang sistem pikiran mengenai hakikat realistik (metafisika), hakikat pengetahuan (epistemologi), hakikat nilai (aksiologi) dan hakikat dari hasil kreasi manusia seperti politik, pendidikan, dsb. Sedangkan agama berisi tentang sistem credo (tata keimanan atau tata keyakinan) mengenai adanya Yang Mutlak di luar manusia, sistem ritus (tata peribadatan) manusia kepada Yang Mutlak, dan sistem norma (kaidah) yang mengatur hubungan manusia dengan manusia, serta hubungan manusia dengan makhluk yang lainnya.
4)      Sekalipun Filsafat dan agama memiliki persamaan dalam hal sifatnya yang normatif atau preskriptif, tetapi agama memiliki sifat imperatif, artinya bahwa agama mengandung ajaran yang mewajibkan.
5)      Sifat kebenaran filasafat adalah subjektif paralelistik, sedangkan kebenaran agama bersifat mutlak.

D.    Cabang dan Aliran Filsafat
1.      Cabang-cabang Filsafat
Berdasarkan objek yang dipelajarinya filsafat dapat diklasifikasikan ke dalam dua bagian, yaitu: 1) Filsafat Umum atau Filsafat Murni, dan 2) Filsafat Khusus atau Filsafat Terapan (Redja Mudyahardjo, 1995).
Filsafat umum atau filsafat murni adalah cabang-cabang filasafat yang objek studinya mengenai segala sesuatu yang ada, yang telah tergelar di dunia (atau yang telah diciptakan Tuhan). Adapun Filsafat khusus atau filasafat terapan adalah cabang-cabang filasafat yang objek studinya mengenai segala sesuatu sebagai hasil kreasi manusia.

2.      Aliran Filsafat
            Aliran-aliran filsafat antara lain: idealisme, materialisme, pragmatisme, rasionalisme, empirisme, eksistensialisme, konstruktivisme, dsb

E.     Kesalahanpahaman, Peranan, dan Manfaat Filsafat
1.      Kesalahpahaman terhadap filsafat
·         Filsafat merupakan sesuatu yang serba rahasia, mistis dan aneh.
·         Filsafat sebagai suatu yang susah dipelajari.
·         Filsafat itu berbahaya, tak perlu dipelajari karena pikiran orang yang belajar filsafat biasanya aneh-aneh, tidak sama dengan pikiran masyarakat pada umumnya, bahkan ada yang menjadi kafir.
·         Filsafat tidak berguna lagi, selaku induk segala ilmu pengetahuan kini telah renta dan mandul. Ia tak mampu dan tak mungkin lagi untuk mengandung dan melahirkan.
·         Filsafat tidak bermakna atau “omong kosong” karena tidak memberikan petunjuk teknis mengenai kehidupan.

2.      Peranan Filsafat
Filsafat telah melaksanakan tiga peranan utamanya dalam sejarah pemikiran manusia, yaitu sebagai pendobrak tradisi dan kebiasaan, pembebas dari kebodohan, dan pembimbing untuk berpikir rasional (Jan Hendrik Rapar, 1996).

·         Manfaat Filsafat
a.       Manfaat filsafat bagi perkembangan ilmu (sains)
             Pertama, filasafat mempelajari segala sesuatu, sebab itu maka filsafat dapat dan telah memberikan konsep-konsep dasarnya sebagai titik tolak (asumsi) bagi perkembangan ilmu.
             Kedua, Filsafat berupaya membimbing perkembangan akanya (ilmu) agar menuju ke arah yang baik dan benar melalui evaluasi, kritik dan koreksinya atas aarh tujuan dan nilai kegunaan ilmu bagi kemaslahatan umat manusia.
             Ketiga, filsafat sebagai penghubung dan pengintegrasi antar disiplin ilmu yang terkotak-kotak.

b.      Manfaat Filsafat bagi Kehidupan Praktis
·         Filsafat memberikan konsep-konsep dan menunjukkan arah tujuah.
·         Filsafat membawa kita kepada pemahaman dan tindakan praktis.
·         Filsafat mengembangkan sikap kritis dan kemandirian intelektual.
·         Filsafat mengembangkan sikap toleransi.





BAB II
FILSAFAT PENDIDIKAN

A.    Pengertian Filsafat Pendidikan
1.      Filsafat Pendidikan sebagai Filsafat Khusus atau Filsafat Terapan
            Filsafat pendidikan merupakan filsafat khusus, sebab filsafat pendidikan memiliki objek yang khusus, yaitu berkenaan dengan pendidikan sebagai hasil kreasi manusia. Dilain pihak, filsafat pendidikan disebut juga sebagai filsafat terapan sebab filsafat pendidikan pada dasarnya merupakan apikasi filsafat umum dalam rangka memecahkan berbagai permasalahan tentang hakikat pendidikan.

2.      Filsafat Pendidikan sebagai Proses dan Hasil Berpikir
            Sebagai proses berpikir, filsafat pendidikan dapat didefinisikan sebagai suatu proses berpikir refleksi sistematis dan kritis kontemplatif untuk menghasilkan sistem pikiran atau sistem teori tentang hakikat pendidikan secara komprehensif.
            Sebagai hasil berpikir, filsafat pendidikan adalah sekelompok teori atau sistem pikiran tentang hakikat pendidikan, yang dihasilkan melalui berpikir reflektif sistematis dan kritis kontemplatif.

B.     Karakteristik Filsafat Pendidikan
1.      Karakteristik Objek Studi Filsafat Pendidikan
            Objek formal studi filsafat pendidikan adalah keseluruhan permasalahan atau pertanyaan mengenai pendidikan yang bersifat mendasar. Jadi objek studi filsafat pendidiikan memiliki karakteristik komprehensif mendasar. Bahwa pertanyaan atau permasalahan filsafat pendidikan pun memiliki sifat spekulatif, abadi dan terbuka.

2.      Karakteristik Tujuan Filsafat Pendidikan
            Filsafat pendidikan bertujuan untuk menghasilkan sistem pikiran atau sistem teori mengenai apa pendidikan, mengapa pendidikan, ke mana arah tujuan pendidikan dan bagaimana hakikat pendidikan.



3.      Karakteristik Proses Studi Filsafat Pendidikan
            Pertama, bahwa proses berfilsafat dimulai dengan ketakjuban atau ketidakpuasan atau keraguan, dan hasrat bertanya yang muncul pada diri seseorang filsuf terhadap sesuatu objek yang didalamnya tentang pendidikan.
            Kedua, permasalahan atau pertanyaan tentang pendidikan yang dihadapi seseorang filsuf selanjutnya dipikirkan oleh filsuf yang bersangkutan melalui prosedur berpikir tententu dalam rangka mencari jawabannya.
            Ketiga, bahwa berpikir filsafati bersifat kontemplatif, artinya berpikir untuk mengungkap hakikat dari segala sesuatu tentang pendidikan yang dipikirkan.
            Keempat, bahwa dalam rangka mengungkap hakikat segala sesuatu tentang pendidikan yang dipertanyakannya itu, para filsuf berpikir secara sinoptik, artinya berpikir dengan pola yang bersifat merangkum keseluruhan tantang apa yang sedang dipikirkan atau dipertanyakan.
            Kelima, Para pilsuf bersifat subjektif, akibatnya maka hasil pemikirannya berupa sistem idep-ide atau sistem pikiran atau teori-teori tentang pendidikan akan dipengaruhi oleh latar belakang pengalaman-pengalaman filsuf yang bersangkutan.

4.      Karakteristik Hasil Studi Filsafat Pendidikan
·         Filsafat pendidikan sebagai suatu hasil berpikir bersifat normatif atau preskriptif.
·         Filsafat pendidikan sebagai hasil berpikir bersifat individualistik unik.
·         Sistem teori atau sistem pikiran pendidikan sebagai hasil bersifilsafat disajikan para filsuf secara tematik sitematis dalam bentuk naratif atau profetik.
·         Adanya berbagai aliran di dalam filsafat umum mengimplikasikan adanya berbagai aliran pula di dalam filsafat pendidikan.

5.      Karakteristik Kebenaran Filsafat Pendidikan
            Kebenaran filsafat pendidikan bersifat subjektif-paralelistik, maksudnya bahwa suatu sistem teori atau sistem pikirtan filsafat pendidikan adalah benar bagi filsuf yang bersangkutan atau bagi para penganutnya msing-masing.



C.    Fungsi Filsafat Pendidikan
1.      Memberikan wawasan yang bersifat komprehensif mengenai hakikat pendidikan.
2.      Menjadi asumsi bagi praktek pendidikan.
3.      Memberi pedoman kemana pendidikan seharusnya diarahkan, yang dirumuskan dalam tujuan pendidikan.
4.      Membangun sikap kritis dan kemandirian intelektual di tengah-tengah teori pendidikan dan praktek pendidikan yang ada atau sedang berlangsung.



























BAB III
FILSAFAT PENDIDIKAN IDEALISME

A.    Konsep Filsafat Umum Idealisme
1.      Metafisika
            Hakikat manusia ukanlah badannya, melainkan jiwa/spiritnya, manusia adalah makhluk berpikir, mampu memilih atau makhluk yang memiliki kebebasan, hidup dengan suatu aturan moral yang jelas dan bertujuan. Adapun tugas dan tujuan hidup manusia adalah hidup sesuai dengan bakatnya serta nilai dan norma moral yang diturunkan oleh Yang Absolut.

2.      Epistemologi
            Menurut filsuf Idealisme, proses mengetahui terjadi dalam pikiran, manusia memperoleh pengetahuan melalui berpikir. Disamping itu, manusia dapat pula memperoleh pengetahuan melalui intuisi. Bahkan beberapa filsuf Idealisme percaya bahwa pengetahuan diperoleh dengan cara mengingat kembali.

3.      Aksiologi
            Manusia diperintah oleh nilai-nilai moral imperatif dan abadi yang bersumber dari realitas Yang Absolut.

B.     Implikasi terhadap Pendidikan
1.      Tujuan Pendidikan
            Pendidikan bertujuan untuk membantu perkembangan pikiran dan diri pribadi (self) siswa, juga untuk membantu mengembangkan karakter serta mengembangkan bakat manusia dan kebijakan sosial.

2.      Kurikulum Pendidikan
            Kurikulum pendidikan Idealisme berisikan pendidikan liberal dan pendidikan vokasional/praktis. Pendidikan leberal dimaksudkan untuk pengembangan kemampuan rasional dan moral. Adapun pendidikan vokasional untuk pengembangan kemampuan suatu kehiduan/pekerjaan.


3.      Metode Pendidikan
            Metode mengajar hendaknya mendorong siswa memperluas cakrawala, mendorong berpikir reflektif, mendorong pilihan-pilihan moral pribadi, memberikan keterampilan-keterampilan berpikir logis, memberikan kesempatan menggunakan pengetahuan untuk masalah-masalah moral dan sosial, meningkatkan minat terhadap isi mata pelajaran, dan mendorong siswa untuk menerima nilai-nilai peradaban manusia (Callahan and Clark, 1983).

4.      Peran Guru dan Siswa
            Menurut filsuf idealisme, guru harus unggul (excellent) agar menjadi teladan bagi para siswanya. keunggulan harus ada pada guru, baik secara moral maupun intelektual.






















BAB IV
FILSAFAT PENDIDIKAN REALISME

A.    Konsep Filsafat Umum
1.      Metafisika
            Hakikat Realitas. Jika filsuf idealisme menekankan pikiran-jiwa/spirit/roh sebagai hakikat realitas, sebaliknya menurut para flsuf realisem bahwa duni aterbuat dari sesuatu yang nyata, substansial dan material yang hadir dengan sendirinya (entity).

2.      Epistemologi
            Ketika lahir, jiwa atau pikiran manusia adalah kosong. Saat dilahirkan manusia tidak membawa pengetahuan atau ide-ide bawaan, Jhon Locke mengibaratkan pikiran/jiwa manusia sebagai tabula rasa (meja lilin/kertas putih yang belum ditulisi). Pengetahuan diperoleh manusia bersumber dari pengalaman dia. Manusia dapat menggunakan pengetahuannya dalam berpikir untuk menemukan objek-objek serta hubungan-hubungannya yang tidak ia persepsi (Callahan and Clark, 1983).

3.      Aksiologi
            Edward J. Power (1982) mengungkapkan Tingkah laku manusia diatur oleh hukum alam, dan pada tingkat yang paling rendah diuji melalui konvensi atau kebiasaan, dan adat istiadat  di dalam masyarakat.

B.     Implikasi terhadap Pendidikan
1.      Tujuan Pendidikan
            Pendidikan bertujuan agar para siswa dapat bertahan hidup di dunia yang bersifat alamiah, memperoleh keamanan dan hidup bahagia.

2.      Kurikulum Pendidikan
            Kurikulum pendidikan sebaiknya meliputi:
1)      Sains / ilmu pengetahuan alam dan matematika
2)      Ilmu-ilmu kemanusiaan dan ilmu-ilmu sosial
3)      nilai-nilai.
3.      Metode Pendidikan
            Metode mengajar yang disarankan para filsuf realisme bersifast otoriter. Guru mewajibkan para siswa untuk dapat menghafal, menjelaskan dan membandingkan fakta-fakta, mengiterpretasi hubungan-hubungan dan mengambil kesimpulan makna-makna baru.

4.      Peran Guru dan Siswa
            Guru adalah pengelola kegiatan belajar-mengajar di dalam keals, guru adalah penentu materi pelajaran, guru harus menggunakan minat siswa yang berhubungan dengan mata pelajaran, dan membuat mata pelajaran sebagai sesuatu yang kongkrit untuk dialami siswa. Para siswa memperoleh disiplin melalui ganjaran dan prestasi, mengendalikan perhatian para siswa, dan membuat siswa aktif (Callahan and Clark, 1983).





















BAB V
FILSAFAT PENDIDIKAN PRAGMATISME

A.    Konsep Filsafat Umum
1.      Metafisika
            Hakikat realitas adalah segala sesuatu yang dialami manusia (pengalaman), bersifat plural (pluralistic) dan terus menerus berubah. Mereka beragumentasi bahwa realitas adalah sebagaimana dialami melalui pengalaman setiap individu (Callahan and Clark, 1983).

2.      Epistemologi
            Menurut filsuf pragmatisme, suatu pengetahuan hendaknya dapat diverifikasi dan diaplikasikan dalam kehidupan. Adapun kriteria kebenarannya adalah workability, sastisfaction, and result. Pengetahuan dinyatakan benar apabila dapat dipraktekan, memberikan hasil dan memuaskan. Dapat disimpulkan bahwa penetahuan bersifast rtelatif, pengetahuan dikatakan bermakna apabila dapat diaplikasikan. Sebab itu Pragmatisme dikenal pula sebagai Instrumentalisme (Edward J. Power, 1982).

3.      Aksiologi
            Menurut paham pragmatisme, nilai hakikatnya diturunkan dari kondisi manusia. Nilai tidak bersifat ekslusif, tidak berdiri sendiri, melainkan ada dalam suatu proses, yaitu dalam tindakan/perbuatan manusia itu sendiri. Karena manusia (individual) merupakan bagian dari masyarakatnya, baik atau tidak baik tindakan-tindakannya dinilai berdasarkan hasil-hasilnya di dalam masyarakat.

B.     Implikasi terhadap Pendidikan
1.      Tujuan Pendidikan
·         Kesehatan yang baik.
·         Keterampilan-keterampilan kejuruan (pekerjaan).
·         Minat-minat dan hobi-hobi untuk kehidupan yang menyenangkan.
·         Persiapan untuk menjadi orang tua.
·         Kemampuan untuk bertransaksi secara efektif dengan masalah-masalah sosial (mampu memecahkan masalah-masalah sosial secara efektif).

2.      Kurikulum Pendidikan
            Kurikulum Pendidikan harus menjadi:
·         Berbasis pada masyarakat.
·         Lahan praktek cita-cita demokratis.
·         Perencanaan demokratis pada setiap tingkat pendidikan.
·         Kelompok batasan tujuan-tujuan umum masyarakat.
·         Bermakna kreatif untuk pengembangan keterampilan-keterampilan baru.
·         Kurikulum berpusat pada siswa.

3.      Metode Pendidikan
            Sebagaimana dikemukakan Callahan dan Clark (1983), penganut Eksperimentalisme atau Pragmatisme mengutamakan penggunaan metode pemecahan masalah (problem solving method) serta metode penyelidikan dan penemuan (inquiry and discovery method).

4.      Peran Guru dan Siswa
            Untuk membantu siswa guru harus berperan:
·         Menyediakan berbagai pengalaman yang akan memunculkan motivasi.
·         Membimbing siswa untuk merumuskan batasan masalah secara spesifik.
·         Membimbing merencanakan tujuan-tujuan individual dan kelompok dalam kelas untuk digunakan dalam memecahkan masalah.
·         Membantu para siswa dalam mengumpulkan informasi berkenaan dengan masalah.
·         Bersama-sama kelas mengevaluasi apa yang telah dipelajari, bagaimana mereka mempelajarinya, dan informasi baru yang setiap siswa temukann oleh dirinya (Callahan and Clark, 1983).




BAB VI
FILSAFAT PENDIDIKAN SCHOLASTISISME

A.    Konsep Filsafat Umum
         1.         Metafisika
            Hakikat realitas, Menurut filsuf Scholastisisme, bahwa alam semesta (universe) atau realitas adalah ciptaan Tuhan Scholastisisme menganut prinsip hylemorpe sebagaimana diajarkan Aristatoles (hyle berarti materi, morphe berarti bentuk). Prinsip ini menyatakan bahwa segala sesuatu –kecuali Allah dan malaikat-merupakan kesatuan dari materi dan bentuk. Prinsip ini memungkinkan kita memahami terjadinya perubahan.

         2.         Epistemologi
            Menurut para filsuf Scholastisisme, bahwa kebenaran absolut dapat dperoleh manusia berdasarkan keimanan (faith). Tetapi manusia pun dapat memperoleh kebenaran tentang benda-benda melaluli rasio atau akal dengan cara berpikir.

         3.         Aksiologi
            Untuk menjadi baik/dapat berbuat baik, pertama-tama manusia harus mengetahui kebaikan dalam aturan-aturan. Meskipun setiap manusia memiliki kecenderungan ke arah yang baik (kepada kebaikan), pertimbangannya mungkin saja mengarahkannya kepada kejahatan.

B.     Implikasi terhadap Pendidikan
1.      Tujuan Pendidikan
            Pendidikan harus bertujuan untuk mengembangkan potensialitas manusia secara penuh menurut doktrin Scholastic. Adapun keseluruhan potensial manusia tersebut meliputi potensi intelektual, fisikal, volisional (kemauan), dan juga vocasional.

2.      Kurikulum Pendidikan
            Isi pendidikan harus meliputi agama dan ilmu kemanusiaan (humanities). Disiplin matematika, logika, bahasa, dan retorika juga dipandang penting. Dalam konteks ini, isi pendidikannya meliputi pendidikan liberal yang mencakup pengembangan mata pelajaran-mata pelajaran fundamental yang berkenaan dengan pengembangan nilai-nilai kemanusiaan dan kemampuan-kemampuan intelektual.

3.      Metode Pendidikan
            Penganut Scholastisisme, mengutamakan metode latihan formal (formal drill) dalam rangka mendisiplinkan pikiran sedangkan dalam rangka persiapan jiwa, yaitu untuk memperkuat keimanan dan kemauan berbuat kebijakan, penganut Scholastisisme mengutamakan metode katekismus (catechism).

4.      Peranan Guru dan Siswa
            Guru harus menjadi teladan yang baik bagi para siswanya. Guru mempunyai wewenang untuk mengatur kelas (pengelolaan kelas berpusat pada guru), dalam hal ini struktur pelajaran yang dirancang guru hendaknya diarahkan untuk membantu pengembangan pengetahuan, keterampilan berpikir, dan untuk berbuat kebajikan.


















BAB VII
FILSAFAT PENDIDIKAN EKSISTENSIALISME

              Eksistensialisme merupakan salah satu aliran filsafat yang mucul pada abad kedua puluh. Eksistensialisme dirintis oleh filsuf Denmark bernama Soren Aabye Kierkegaard (1813-1855).
              Eksistensi berarti  manusia berdiri sebagai diri sendiri dengan keluar dari dirinya sendiri (Harun Hadiwijono, 1992). Eksistensi adalah cara manusia berada (mengada) di dunia. Eksistensi adalah cara manusia beradanya manusia sebagai subjek (pribadi) yang sadar diri dan memiliki penyadaran diri, yang ke luar dari dirinya sendiri.

A.    Filsafat Umum Eksistensialisme
1.      Metafisika
            Para filsuf Eksistensialisme mengakui adanya realitas yang bersifast fisik atau realitas yang bersifat material, sedangkan realitas spiritual (Tuhan) diakui keberadaannya oleh para filsuf Eksistensialisme yang religius (theistik). Sebaliknya, realitas spiritual (Tuhan) tidak diakui keberadaannya oleh filsuf Eksistensialisme yang atheis.

2.      Epistemologi
            Pengalaman bagi filsuf eksistensialisme adalah pengalaman yang terhayati oleh individu sebagai subjek atau pribadi. Bagaimanapun, pengetahuan manusia berasal dari pengalamannya.

3.      Aksiologi
            Para filsuf Eksistensialisme berpendapat bahwa tidak ada nilai-nilai yang bersifat absolut, nilai-nilai tidak ditentukan oleh kriteria dari luar. Setiap nilai ditentukan oleh kebebasan memilih setiap pribadi perseorangan.

B.     Implikasi terhadap Pendidikan
1.      Tujuan Pendidikan
            Tujuan utama pendidikan menurut para filsuf Eksistensialisme adalah untuk membantu manusia secara individual. Artinya, untuk membimbing individu ke dalam suatu penyadaran diri dan mengembangkan (to promote) komitmen yang berhasil mengenai sesuatu yang penting dan bermakna bagi eksistensinya.

2.      Kurikulum Pendidikan
            Kurikulum ideal bagi filsuf Eksistensialisme akan mengutamakan:
1)      Suatu kurikulum aktivitas.
2)      Minat peserta didik sebagai dasar perencanaan aktivitas.
3)      Kebebasan yang penuh dari peserta didik untuk belajar secara individual maupun secara kelompok.
4)      Kurikulum yang didasarkan atas kebutuhan-kebutuhan yang dekat.
5)      Mengakui perbedaan-perbedaan pengalaman individual peserta didik.

3.      Metode Pendidikan
            Menurut para filsuf Eksistensial, pendidikan hendaknya dilaksanakan dengan teknik-teknik pembelajaran nondirective. Karena itu, kepastian dan rincian pelajaran yang direncanakan (direkayasa secara ketat) tidaklah penting alasannya, rencana pembelajaran yang sudah disusun atau direkayasa secara ketat akan menjadi pemaksaan minat dan nilai-nilai orang dewasa (pendidik) terhadap peserta didik.

4.      Peranan Pendidik dan Peserta Didik
            Pendidik (guru) penganut Eksistensialisme harus berperan sebagai pembimbing, karena itu ia harus demokratis. Guru tidak boleh memaksakan tujuan-tujuan pribadinya kepada peserta didik (siswa), dan pendidik (guru) harus terus membuat rencana-rencana secara demokratis dengan para peserta didik (para siswa) atau dasar kebutuhan-kebutuhan dan tujuan-tujuan peserta didik (Callahan and Clark, 1983).







BAB VIII
PROGRESIVISME

A.    Latar Belakang
           Progresivisme adalah gerakan pendidikan yang dilakukan oleh suatu perkumpulan yang dilandasi konsep-konsep filsafat tertentu, dan sangat berpengaruh dalam pendidikan bangsa amerika pad permulaan abad ke dua puluh. Perkumpulan Pendidikan Progresivisme (The Progressive Education Association) didirikan pada tahun 1918, selama dua puluh tahun a tau lebih Progresivisme merupakan “jiwa” yang merasuki pendidian bangsa Amerika. Progresivisme menentang dan menolak formalisme yang berlebihan dan membosankan dari praktek-praktek sekolah atau pendidikan yang tradisional.

B.     Filsafat Pendukung/Yang Melandasi
           Progresivisme didukung atau dilandasi oleh filsafat Pragmatisme dari John Dewey (1859-1952). Dewey memang merupakan orang yang paling dikenal mempengaruhi dan berperan dalam rangka pendirian serta perkembangan progresivisme.

C.    Pandangan Filsafat Umum yang Melandasinya
1.      Pandangan Ontologi
         Evolusionistis dan Pluralistis. Progresivisme bersifat anti metafisika. Alam semesta yang disebut dunia memang diakui adanya sebagai suatu relitas, tetapi hal ini tiak dipandang sebagai sesuatu yang bersifat substansial.
         Manusia. Progresivisme memandang manusia sebagai subyek yang bebas dan memiliki potensi intelegensi (akal dan kecerdasan) sebagai instrumen untuk mampu menghadapi dan memecahkan berbagai masalah sehingga ia memiliki kemampuan untuk menghadapi dunia dan lingkungan hidupnya yang multi komploeks, berubah dan berkembang.

2.      Pandangan Epistemologi
         Sumber pengetahuan. Progresivisme mengajarkan bahwa pengetahuan dapat diperoleh melalu pengalaman dimana menusia kontak langsung dengan segala realita dalam lingkungan hidupnya, atau juga melalui pengalaman secara tidak langsung yaitu melalui catatan-catatan yang diwariskan seperti buku atau literatur lainnya.

3.      Pandangan Aksiologi
         Sumber nilai: kondisi riil manusia/pengalaman. Progresivisme menafsirkan hakikat nilai etika) secara empiris, yaitu berdasarkan pengalaman atau kondisi riil manusia. Nilai tidak diturunkan dari sesuatu yang bersifat non empiris atau yang bersifat supernatural seperti wahyu Tuhan dsb.

D.    Konsep tentang Pendidikan
1.      Definisi Pendidikan
         Progresivisme menekankan enam prinsip mengenai pendidikan dan atau belajar, yaitu bahwa:
1)      Pendidikan seharusnya adalah hidup itu sendiri, bukan persiapan untuk kehidupan.
2)      Belajar harus langsung berhubungan dengan minat anak.
3)      Belajar melalui pemecahan masalah hendaknya diutamakan daripada pemberian bahan pelajaran.
4)      Guru berperan sebagai pemberi advise, bukan untuk mengarahkan.
5)      Sekolah harus menggerakan kerjasama daripada kompetisi.
6)      Demokrasilah satu-satunya yang memberi tempat dan menggerakan pribadi-pribadi saling tukar menukar ide secara bebas, yang diperlukan untuk pertumbuhan sesungguhnya.

2.      Tujuan Pendidikan
         Tujuan Pendidikan. Bagi penganut Progresivisme pendidikan bertujuan agar peserta didik (individu) memiliki kemampuan memecahkan berbagai masalah baru dalam kehidupan pribadi maupun kehidupan sosial, atau dalam berinteraksi dengan lingkungan sekitar yang berada dalam proses perubahan.

3.      Kurikulum
         Kurikulum hendaknya disesuaikan dengan sifat-sifat peserta didik (minat, bakat, dan kebutuhan setiap peserta didik) atau child centered, juga harus bersumber dari kehidupan yang riil dan wajar, yaitu berasal dari lingkungan (alamiah maupun sosial-budaya).

4.      Metode
         Metode pendidikan yang diutamakan Progresivisme adalah metode pemecahan masalah (Problem solving method), serta metode penyelidikan dan penemuan (Inquiry and discovery method). Dalam pelaksanaannya dibutuhkan guru yang memiliki karakteristik sebagai berikut: permissive (pemberi kesempatan), friendly (bersahabat), a guide (seorang pembimbing), open minded (berpandangan terbuka), creative (kreatif), social aware (sadar bermasyarakat), enthusiastic (antusias), cooperative and sincere (bekerjasama dan sungguh-sungguh) (Callahan and Clark, 1983)

5.      Peranan Pendidik dan Peserta Didik
         Edward J. Power (1982) menyimpulkan bahwa guru berperan untuk memimpin dan membimbing pengalaman belajar tanpa ikut campur terlalu jauh atas minat dan kebutuhan peserta didik, sedangkan peserta didik berperan sebagai organisme yang rumit yang mempunyai kemampuan luar biasa untuk tumbuh.
















BAB IX
ESENSIALISME

A.    Latar Belakang
             Esensialisme dikenal sebagai gerakan pendidikan dan juga sebagai aliran filsafat pendidikan. Esensialisme berusaha mencari dan mempertahankan hal-hal esensial, yaitu sesuatu yang bersifat inti atau hakikat fundamental, atau unsur mutlak yang menentukan keberadaan sesuatu. Menurut esensialisme, yang esensial tersebut harus diwariskan kepada generasi muda agar dapat bertahan dari waktu ke waktu, karena itu esensialisme tergolong Tradisionalisme.

B.     Filsafat Pendukung/Yang Melandasi
             Esensialisme didukung atau dilandasi oleh filsafat idealisme dan Realisme. Filsuf-filsuf besar Idealisme peletak dasar asas-asas esensialisme yang hidup pada zaman klasik yaitu: Plato, sedangkan filsuf idealisme modern adalah Leibniz, Immanuel Kant, Hegel dan Schopenhauer.

C.    Pandangan Filsafat Umum yang Melandasinya
1.      Pandangan Ontologi
            Pandangan ontologis Esensialisme merupakan suatu konsepsi bahwa dunia atau realitas ini diakui oleh tata (order) tertentu yang mengatur dunia beserta isinya. Hal ini berarti bahwa bagaimanapun bentuk, sifat, kehendak dan cita-cita, dan perbuatan manusia harus disesuaikan dengan tata tersebut.

2.      Pandangan Epistemologi
a.      Epistemologi Idealisme
             Sumber Pengetahuan. Kesadaran manusia adalah bagian dari kesadaran yang absolut, pola desain dan totalitas mikrokosmos sama dengan makrokosmos, sekalipun terdapat perbedaan hanyalah skalanya saja. Karena itu, dalam diri manusia tercermin suatu harmoni dengan alam semesta, khususnya pikiran manusia (human mind).



b.      Epistemologi Realisme
             Sumber Pengetahuan, Menurut realisme objektif sumber pengetahuan adalah dunia luar subjek, pengetahuan diperoleh melalui pengalaman dia, atau pengamatan.
             Kriteria Kebenaran. Suatu pengetahuan diakui benar jika pengetahuan itu sesuai dengan realitas eksternal (yang objektif) dan independen. Sebab itu, uji kebenaran pengetahuan dilakukan melalui uji korespondensi pengetahuan dengan realitas.

3.      Pandangan Aksiologi
a.      Aksiologi Idealisme
             Para filsuf idealisme sepakat bahwa nilai hakikatnya diturunkan dari realitas absolut (yaitu: dari Tuhan sebagai Pribadi bagi penganut idealisme Theistik, atau dari suatu kekuatan spirit impersonal dari alam bagi penganut idealisme pantheistik yang mengidentikan Tuhan dengan alam). Karena itu, nilai-nilai adalah abadi atau tidak berubah (Callahan and Clark, 1983).

b.      Aksiologi Realisme
             Para filsuf Realisme percaya bahwa standar nilai tingkah laku manusia diatur oleh hukum alam, dan pada taraf yang lebih rendah diatur melalui konvensi atau kebiasaan, adat istiadat di dalam masyarakat (Edward J. Power, 1982).

D.    Konsep tentang Pendidikan
1.      Definsi Pendidikan
         Pendidikan merupakan upaya untuk memelihara kebudayaan, “Education as Cultural Conservation”. Mereka percaya bahwa pendidikan harus didasarkan kepada nilai-nilai kebudayaan yang telah ada sejak awal peradaban umat manusia.

2.      Tujuan Pendidikan
         Pendidikan bertujuan mentransmisikan kebudayaan untuk menjamin solidaritas sosial dan kesejahteraan umum (E.J. Power, 1982).


3.      Kurikulum
         Kurikulum terdiri atas berbagai mata pelajaran yang berisi ilmu pengetahuan, “agama, dan seni, yang dipandang essensial. Adapun sifat organisasi isi kurikulum adalah berpusat pada mata pelajaran (subject matter centered).

4.      Metode
         Dalam hal metode pendidikan, Esensialisme menyarankan agar sekolah-sekolah mempertahankan metode-metode tradisional yang berhubungan dengan disiplin mental.

5.      Peranan Pendidik dan Peserta Didik
         Guru atau pendidik berperan sebagai mediator atau jembatan antara dunia masyarakat atau orang dewasa dengan dunia anak.
         Peran peserta didik adalah belajar, bukan untuk mengatur pelajaran. Menurut idealisme belajar yaitu menyesuaikan diri pada kebaikan dan kebenaran seperti yang telah ditetapkan oleh yang absolut (Madjid Noor, dkk, 1987).


















BAB X
PERENIALISME

A.    Latar Belakang
             Penganut Perennialisme percaya mengenai adanya nilai-nilai, norma-norma yang bersifat abadi dalam kehidupan ini. Atas dasar itu, penganut Perennialisme memandang pola perkembangan kebudayaan sepanjang zaman  adalah sebagai pengulangan dari apa yang pernah ada sebelumnya.

B.     Filsafat Pendukung/Yang Melandasi
             Parennialisme dilandasi atau didukung oleh filsuf Yunani Klasik, yaitu Plato (427-347 SM) dan Aristoteles (384-322 SM). Adapun pada abad kedua puluh Perennialisme dipengaruhi dan didukung oleh Filsafat Humanisme Rasional dan Supernaturalisme Thomas Aquinas.

C.    Pandangan Filsafat Umum yang Melandasinya
1.      Pandangan Ontologi
            Menurut Perennialisme, manusia terutama membutuhkan jaminan bahwa “realitas bersifat universal-realitas itu ada di mana pun dan sama di setiap waktu. Realitas bersumber dan bertujuan akhir kepada realita supernatural/Tuhan (asas supernatural). Realitas mempunyai watak bertujuan (asas teleologis). Substansi realitas adalah bentuk dan materi (hylemorphisme).

2.      Pandangan Epistemologi
            Sebagai makhluk berpikir, manusia akan dapat memperoleh pengetahuan tentang diri kita dan dunia sebagaimana adanya. Memang perennialisme mengakui bahwa impresi atau kesan melalui pengamatan tentang individual thing adalah pangkal pengertian tentang kebenaran. Tetapi manusia akan memperoleh tahu (pengetahuan) lebih tepat jika berstandar pada asas-asas kepercayaan dan bantuan wahyu, dan itulah tahu dalam makna tertinggi, yang ideal.

3.      Pandangan Aksiologi
            Pandangan tentang hakikat nilai menurut Perennialisme adalah pandangan mengenai hal-hal yang bersifat spiritual. Yang Absolut atau Ideal (Tuhan) adalah sumber nilai dan oleh karena itu nilai selalu bersifat teologis (Imam Bernadib, 1984).

D.    Konsep Pendidikan
1.      Definisi Pendidikan
            Parennialisme memandang education as cultural regression, pendidikan sebagai jalan kembali, atau proses mengembalikan keadaan manusia sekarang seperti dalam kebudayaan masa lampau yang dianggap sebagai kebudayaan ideal.

2.      Tujuan Pendidikan
            Tujuan pendidikan adalah membantu peserta didik menyingkapkan dan menginternalisasikan nilai-nilai kebenaran yang abadi agar mencapai kebijakan dan kebaikan dalam hidup.

3.      Kurikulum
            Kurikulum pendidikan bersifat subject centered atau berpusat pada materi pelajaran. Materi pelajaran harus bersifat uniform, universal dan abadi. Selain itu, materi pelajaran terutama harus terarah kepada pembentukan rasionalitas manusia atau kemampuan berpikir, sebab demikianlah hakikat manusia.

4.      Metode
            Metode pendidikan atau metode belajar utama yang digunakan oleh penganut Perennialisme adalah membaca dan diskusi, yaitu membaca dan mendiskusikan karya-karya besar yang tertuang dalam The Great Books. Hal ini dipandang baik dalam rangka latihan untuk mendisiplinkan pikiran para peserta didik.

5.      Peranan Pendidik dan Peserta didik
            Peranan guru bukan sebagai perantara antara dunia dengan jiwa anak, melainkan mengembangkan potensi-potensi self discovery, dan ia melakukan moral authority (otoritas moral) atas murid-muridnya, karena ia seorang profesional yang quilified dan superior dibandingkan muridnya.


BAB XI
FILSAFAT PENDIDIKAN KONSTRUKTIVISME

A.    Konsep Filsafat Umum
1.      Metafisika
            Menurut konstruktivisme, manusia tidak pernah dapat mengerti realitas yang sesungguhnya secara ontologis. Yang dapat kita mengerti hanyalah struktur konstruksi kita akan sesuatu objek (Shapiro, 1994). Konstruktivisme memang tidak bertujuan mengerti realitas secara ontologis, tetapi lebih hendak melihat bagaimana kita menjadi tahu akan sesuatu.

2.      Epistemologi dan Aksiologi
            Filsuf Realisme atau Empirisme (misalnya Aristatoles, Jhon Locke) menyatakan bahwa sumber pengetahuan adalah dunia luar, semua pengetahuan diturunkan dari pengalaman atau observasi atas alam semesta.

B.     Implikasi terhadap pendidikan
             Dalam konstruktivisme istilah pendidikan lebih diartikan sebagai mengajar. Bagi penganut konstruktivisme, mengajar bukanlah kegiatan memindahkan pengetahuan dari guru kepada murid, melainkan suatu kegiatan yang memungkinkan siswa membangun sendiri pengetahuannya.

1.      Tujuan Pendidikan
            Tujuan pendidikan (pengajaran) atau tujuan pengajaran konstruktivisme lebih menekankan pada perkembangan konsep dan pengertian (pengetahuan) yang mendalam sebagai hasil konstruksi aktif si pelajar (Fosnot, 1996).

2.      Kurikulum Pendidikan
            Driver dan Oldham (Matthews, 1994) menyatakan, bahwa perencana kurikulum konstruktivisme tidak dapat begitu saja mengambil kurikulum standar yang menekankan siswa pasif dan guru aktif, sebagai cara mentransfer pengetahuan dari guru kepada murid.


3.      Metode Pendidikan
            Setiap pelajar mempunyai caranya sendiri untuk mengerti, karena itu mereka perlu menemukan cara belajar yang tepat untuk dirinya masing-masing. Dalam konteks ini maka tidak ada satu metode mengajar yang tepat, satu emtode mengajar saja tidak akan banyak membantu pelajar belajar, sehingga pengajar sangat mungkin untuk mempertimbangkan dan menggunakan berbagai metode yang membantu pelajar belajar.

4.      Peran Guru dan Siswa
            Dalam kegiatan mengajar guru hendaknya berperan sebagai mediator dan fasilitator yang membantu agar proses belajar peserta didik berjalan dengan baik. Adapun peserta didik dituntut aktif belajar dalam rangka mengkonstruksi pengetahuannya, dan karena itu peserta didik sendirilah yang harus bertanggung jawab atas hasil belajarnya.




















BAB XII
FILSAFAT PENDIDIKAN NASIONAL: PANCASILA

A.    Konsep Filsafat Umum
1.      Metafisika
            Hakikat Realitas. Bangsa Indonesia meyakini bahwa realitas atau alam semesta tidaklah ada dengan sendirinya, melainkan sebagai ciptaan (makhluk) Tuhan Yang Maha Esa. Tuhan adalah sumber pertama dari segala yang ada,  Ia adalah sebab pertama dari segala sebab, tetapi Ia tidak disebabkan oleh sebab-sebab yang lainnya, dan ia juga adalah tujuan akhir segala yang ada.

2.      Epistemologi
            Hakikat Pengetahuan. Segala pengetahuan hakikatnya bersumber dari sumber pertama yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Tuhan telah menurunkan pengetahuan baik melalui Utusannya (berupa wahyu) maupun melalui berbagai hal yang digelarkanNya di alam semesta termasuk hukum-hukum yang terdapat di dalamnya.

3.      Aksiologi
            Hakikat Nilai. Sumber pertama segala nilia hakikatnya adalah Tuhan YME. Karena manusia adalah makhluk Tuhan, juga adalah pribadi dan sekaligus insan sosial, maka hakikat nilai diturunkan dari Tuhan YME, masyarakat dan individu.

B.     Implikasi Terhadap Pendidikan
1.      Makna Pendidikan
            Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (Pasal 1 UU RI No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional).



2.      Tujuan Pendidikan
            Pendidikan bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menajadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

3.      Kurikulum Pendidikan
            Kurikulum disusun sesuai dengan jenjang pendidikan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a.       Peningkatan Iman dan Taqwa.
b.      Peningkatan akhlak mulia.
c.       Peningkatan potensi, kecerdasan, dan minat peserta didik.
d.      Keragaman potensi daerah dan lingkungan.
e.       Tuntutan pembangunan daerah dan nasional.
f.       Tuntutan dunia kerja.
g.      Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.
h.      Agama.
i.        Dinamika perkembangan global.
j.        Persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan.

4.      Metode Pendidikan
            Penggunaan metode pendidikan diharapkan memperhatikan prinsip cara belajar siswa aktif (CBSA) dan sebaliknya bersifat multi metode.

5.      Peran Pendidik dan Peserta Didik
            Dalam semboyan ing ngarso sung tulodo artinya pendidik harus memberikan atau menjadi teladan bagi peserta didiknya. ing madya mangun karso artinya pendidik harus mampu membangun karsa pada diri peserta didiknya, dan tut wuri handayani artinya bahwa sepanjang tidak berbahaya pendidik harus memberi kebebasan atau kesempatan kepada peserta didik untuk belajar mandiri.


                                                 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar